Bukan ngambek, tapi melang. Tahu!
Berhubung adik kandungnya hospitalized sejak Minggu malam karena gangguan maag berat. Adalah wajar aja klo ambu mau ke Sukabumi buat nengokin. Untung juga Wandi lagi libur jadi bisa bantuin cari brankar sampai mangku pasien segala. Lalu rame2 jam 10 malam dibopong berempat ke RS Bunut buat dirawat inap. Ambu berangkat kemarin sore jam 17, pantesin aja mas
ih seragam hansip tapi pulang cepat jam 15. 3 kali ditawarin diantar tapi ambunya mugen. Katanya sesampainya disana akan nginap di Bunut. Cuma gituh, sampai jam 1 malam gak ada khabar dah sampai apa belum. Lalu jam 2, jam 3, jam 4 praktis abah gak bisa tidur, Tentu aja ambek nyedek tanaga mindek kumelang tea. Iya sih bawa hape, tapi kapan ambunya gaptek. Ya sama aja bohong gak bisa dihubungi gak dapet khabar apapun. Jam 5 nelepon ke Babakan Jampang yang terima Hilman, katanya semalam dianya gak lihat wak Bedah datang. Aku minta bantuannya untuk ke RS lalu minta khabarnya. Euleuh dasar SMP kelas 2, gagang telepon malahan digeletakin di tempatnya. Atuh kantenan hubungan terputus. Akhirnya sembari ambek mana gak mandi lagi, abah bersiap mo nyusul ke Sukabumi. Meskipun kalau Hilman mau bantu tengokin ibunya di RS tentu uwanya akan kelihatan kalau memang sudah datang. Bakdal Shubuh abah langsung ngacir ke Thamrin lalu nungguin bus ke Rambutan. Merasa lama lalu naik Kopaja 19 jurusan Ragunan yang katanya ke Blok M. Huh dasar supir entah kondektur eusleum abah kalah ka dibawa kabur ke Fatmawati. Setelah abah rada pelototin sembari ditanya tentang trayek, akhirnya abah dikembalikan ke Blok M dari Iskandarsyah. Merasa puyeng mual mau mabok, abah batalkan ke Sukabumi. Lalu balik ke terminal beli tiket Busway. Kasih uang 10ribu dikembaliin 8ribu. Waktu ditanya ke sienon tiket, katanya iya tiket buat Koridor 1 Blok M - Kota. Aneh klo dari Bunderan HI ke Blok M bayarnya kok malahan 3.500 perak yah. Naik duduk di jok belakang, walah2 AC nya full. Lalu pindah ke jok depan belakang supir, AC nya gak begitu dingin. Di masjid agung Al-Azhar naik seorang wanita tengah baya yang kulitnya putih susu, imut mungil cantik. Sekilas aku ingat sama Murni teman semasa bujangan di hotel Asoka tahun 1972. Dianya juga sempat menatapi sekilas saat kutatapi wajah dan penampilannya yang cantik dan tangkas. Dia mengenakan kulot hitam dengan toplet hitam dan blazer biru pastel. rambutnya yang panjang ikal sebahu dibiarkannya tergerai. Bibirnya? Sensual lho. Kemudian dianya tampak seperti mengantuk dengan wajah sedih. Wajah dan mata sedih itu tak bisa ditutupinya dalam lipatan saputangan kecil nya. Anehnya dianya kayaknya senang aja merasa ada yang memperhatikan roman sedihnya. Tapi abah kan gak mungkin menyapa karena kami duduknya saling berseberangan. Cobalah nanti manatahu dianya akan turun di Nikko. Manatahu ada yang bisa kubantu seperlunya. Empati kalih yah. Namun tatkala abah berdiri buat ancang2 turun di terminal Bunderan HI, dianya tetap anteng duduk. Dengan punggung dingin abah terhuyung sampai ke markas. Untung Wandi sigap buka gerbang. Punggungku lalu dibaluri minyak urat dan di kop. Lantas abah tdur sampai saat Dhuhur. Jam 10 baru ambu nelepon dan katanya akan pulang sore harinya. Malam jam 21 baru nyampe.
¨Maaf, semalam itu sesampainya ambu ke Bunut lalu tidur. Mana jalanan macet di Cicurug lagi.¨ Iya sih hati masih sebel bahna sebegitu gak kasih khabar. Tapi adem kok mengamati lenggangnya.
June 6th, 2006 at 6:32 pm
oh ..gitu yaa
November 22nd, 2006 at 9:38 pm
Atuh iya adem tho mas. Kan bentar lagi abah dah bisa numpak jalma. :=p