Archive for June, 2006

Besan Wildan wafat.

Thursday, June 22nd, 2006

Belum sebulan Gaby lahir, pada hari Jumat 16 Juni 2006 jam 14 abah nerima call dari neng Wiena. Begitu disahuti terdengar tangisan minantu yang panjang sampai rada payah juga abah meredakannya. Lalu sambil mengisak neng Wiena memberitahukan kalau ayahnya Raden Wildan Sunarya Wiramidjaja telah wafat pada jam 13. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau wafat didampingi oleh Ibu Een yang sejak 10 hari Gaby lahir lalu berada di Bukit Sentul mendampingi putri bungsunya dan merawat Gaby atas ijin Almarhum. Ambu hanya berkesempatan dari Jumat malam sampai Minggu siang saja karena masih ngantor. Abah juga sempat menelepon kepada Yan Sunarya putra sulungnya yang berdomisili di Washington DC bersama isteri Amerika nya Betsy dengan Annalis, Nina dan Ryan. Almarhum yang tinggal di Citra Raya Cikupa Tangerang itu dimakamkan di TPU Mulya Sari pada hari itu juga jam 19. Abah datang ke makam pada saat jenazah diadzankan oleh Atep putra ke 3 nya atau anak ke 6. Yan baru datang ke Bandara Sukarno Hatta pada hari Minggu 18 Juni 2006 jam 8 pagi. Malam itu Abah, Ambu dan Ade menginap di rumah duka dan besoknya diantar Aip buat istirohah ke Perumnas.
"Semoga Allah terima amal Islamnya dan ampuni segala dosanya dan maafkan kesalahannya dan menempatkannya ditempat terbaik disisiNYA. Keluarga yang ditinggalkan beroleh keshabaran dan tawakaltu ilallahu sambil meneruskan kehidupan dengan selayaknya dan sebagaimana mestinya. Amiiien Yaa Rabb Al Amiiien."

Giselle Inara Nugraha

Thursday, June 22nd, 2006

Alhamdulillah. Akhirnya cucu pertama abah lahir cantik imutz via sectio caesaria pada 23 Mei 2006 jam 15:03 di RSB Asih Jl Panglima Polim  I/24 Jakarta Selatan. Subhanallah, tentunya dong senangnya hatiku berserta seluruh slaag-orde keluarga. Dasar cucu  Abah Gory begitu lahir Gaby juga besar 3100 gram 48 cm. Papa Aip aja menyaksikan proses kelahiran sejak awal sampai selesai. Namanya aja sayang sama bini yang telah ditaksirnya sejak kelas 2 SD Karawaci III TangeranG9g.  Gaby ini hanya 2 minggu menjadi sesosok bayi, sesudah itu dari gerak mata dan mimik sudah mulai tampak intelegensia nya. Gaby adalah cucu pertama bagi Abah Eman dan Enin Bedah tapi ke 14 bagi Aki Wildan dan Nini Een.
Kesempatan menggendong cucu baru terjadi pada 9 Juni 2006 di Bukit Sentul. Itupun nyolong2 dari penjagaan bapaknya yang tampaknya posesif banget. Alhamdulillah Gaby kuat sampai 15 menit itupun kudu ganti popok karena Gaby menyiram kaos abahnya dengan hangat dan mesranya. Nuhun nya incu. Katanya sih klo dikencingi bayi bakal murah rizki asal abah kian rajin aja berusahanya. Iya juga, belum seminggu Abah dapat amplop Rp 10 juta. Mana abah juga jadi kepingin punya usaha lagi, buat modal bantu membesarkan dan memberikan pendidikan yang seluas2nya dan sebaik2nya bagi Gaby. Insyallah terdidik di Amerika sana.

Bukan ngambek, tapi melang. Tahu!

Tuesday, June 6th, 2006

Berhubung adik kandungnya hospitalized sejak Minggu malam karena gangguan maag berat. Adalah wajar aja klo ambu mau ke Sukabumi buat nengokin. Untung juga Wandi lagi libur jadi bisa bantuin cari brankar sampai mangku pasien segala. Lalu rame2 jam 10 malam dibopong berempat ke RS Bunut buat dirawat inap. Ambu berangkat kemarin sore jam 17, pantesin aja masAmbuih seragam hansip tapi pulang cepat jam 15. 3 kali ditawarin diantar tapi ambunya mugen. Katanya sesampainya disana akan nginap di Bunut. Cuma gituh, sampai jam 1 malam gak ada khabar dah sampai apa belum. Lalu jam 2, jam 3, jam 4 praktis abah gak bisa tidur, Tentu aja ambek nyedek tanaga mindek kumelang tea. Iya sih bawa hape, tapi kapan ambunya gaptek. Ya sama aja bohong gak bisa dihubungi gak dapet khabar apapun. Jam 5 nelepon ke Babakan Jampang yang terima Hilman, katanya semalam dianya gak lihat wak Bedah datang. Aku minta bantuannya untuk ke RS lalu minta khabarnya. Euleuh dasar SMP kelas 2, gagang telepon malahan digeletakin di tempatnya. Atuh kantenan hubungan terputus. Akhirnya sembari ambek mana gak mandi lagi, abah bersiap mo nyusul ke Sukabumi. Meskipun kalau Hilman mau bantu tengokin ibunya di RS tentu uwanya akan kelihatan kalau memang sudah datang. Bakdal Shubuh abah langsung ngacir ke Thamrin lalu nungguin bus ke Rambutan. Merasa lama lalu naik Kopaja 19 jurusan Ragunan yang katanya ke Blok M. Huh dasar supir entah kondektur eusleum abah kalah ka dibawa kabur ke Fatmawati. Setelah abah rada pelototin sembari ditanya tentang trayek, akhirnya abah dikembalikan ke Blok M dari Iskandarsyah. Merasa puyeng mual mau mabok, abah batalkan ke Sukabumi. Lalu balik ke terminal beli tiket Busway. Kasih uang 10ribu dikembaliin 8ribu. Waktu ditanya ke sienon tiket, katanya iya tiket buat Koridor 1 Blok M - Kota. Aneh klo dari Bunderan HI ke Blok M bayarnya kok malahan 3.500 perak yah. Naik duduk di jok belakang, walah2 AC nya full. Lalu pindah ke jok depan belakang supir, AC nya gak begitu dingin. Di masjid agung Al-Azhar naik seorang wanita tengah baya yang kulitnya putih susu, imut mungil cantik. Sekilas aku ingat sama Murni teman semasa bujangan di hotel Asoka tahun 1972. Dianya juga sempat menatapi sekilas saat kutatapi wajah dan penampilannya yang cantik dan tangkas. Dia mengenakan kulot hitam dengan toplet hitam dan blazer biru pastel. rambutnya yang panjang ikal sebahu dibiarkannya tergerai. Bibirnya? Sensual lho. Kemudian dianya tampak seperti mengantuk dengan wajah sedih. Wajah dan mata sedih itu tak bisa ditutupinya dalam lipatan saputangan kecil nya. Anehnya dianya kayaknya senang aja merasa ada yang memperhatikan roman sedihnya. Tapi abah kan gak mungkin menyapa karena kami duduknya saling berseberangan. Cobalah nanti manatahu dianya akan turun di Nikko. Manatahu ada yang bisa kubantu seperlunya. Empati kalih yah. Namun tatkala abah berdiri buat ancang2 turun di terminal Bunderan HI, dianya tetap anteng duduk. Dengan punggung dingin abah terhuyung sampai ke markas. Untung Wandi sigap buka gerbang. Punggungku lalu dibaluri minyak urat dan di kop. Lantas abah tdur sampai saat Dhuhur. Jam 10 baru ambu nelepon dan katanya akan pulang sore harinya. Malam jam 21 baru nyampe.
¨Maaf, semalam itu sesampainya ambu ke Bunut lalu tidur. Mana jalanan macet di Cicurug lagi.¨ Iya sih hati masih sebel bahna sebegitu gak kasih khabar. Tapi adem kok mengamati lenggangnya.

Adelia.

Monday, June 5th, 2006

Huh, dasar remaja. Hape aja dipasangin lagu. Jadi klo dipanggil
terdengar nada panggil 2 kali lalu dari sonohnyah terdengar alunan
lagu. Dia pikir eman kalih dengerin MP3 di hape. Kapan hati mah kebat
kebit kepingin segera disahutin bahna ada khabar penting banget buat si
Adel. Itu kemarin siang. Gak ada sahutan  seperti biasanya klo ngasih
miscall. Malamnya ngirim sms, nanyain khabarnya selagi ikut pendidikan
dasar operasionil BCA, karena belum juga ikut UAN dah ikutan test masuk
BCA Sukabumi. Namun begitulah rupanya yang namanya budaya hape kaum
remaja putri yang jauh beda dengan budaya hape para remako yang selalu
siap kalo dipanggil kapan saja siapa saja. Tapi tidak dimana saja
bukan?Adel_1 Lha klo di WC apalagi cubluk kan hape bisa nyemplung, klo lagi
di kamar mandi kan bisa kebanjur. Pokoknya bagi para remako mah hape
digunakan sebagai mana mestinya ajah. Bukan buat selingkuh juga. Ada
khabar dari Wandi, katanya si Adel kehabisan logistik. Iya sih makan
mondok dapet, tapi namanya remaja klo mo makan bakso Karapitan atawa
colenak Murdi di Cidurian kapan kudu bawa modal sendiri. Tapi asal
dipanggil tetep aja lagu yang nyahutin. Mangkaning Ambu mau nanya norek
bank buat kirim dokat. Gimana mao klo disuruh macul sehektar yah? Sebel
aing.

Sibontot Tour de Yogya.

Sunday, June 4th, 2006

Kbtn2jpg
Sempat juga sih dicegah tatkala sibontot bilang mau ke Yogya bersama 7 temannya. Mau ngapain coba? Jauh2 dari Tangerang bersama teman Fikom. Hehehe, dianya ngotot lalu menjelaskan segala sesuatunya en-detail. Dengan tangkasnya dia menjawab semua pertanyaan dasar. Tujuan? Personil?  Kendaraan? Surat2? Tempat nginap? Logistik? Finansil? sampai abah puas meskipun tampak juga wajahnya berkeringat sesekali merah padam. Entah merasa dilecehkan entah ngejeblehin, kok aku bisanya menangisi kepergian kaum muda buat mencari ilmu panemu dimuka bumi buat bekalan mereka kemasa depan. Iya yah, padahal masa depan itu milik mereka kaum muda. Abah mah sekedar ulet keket ajah yang kerjaannya nemplokin daun segar sambil ngunyah lalu tidur2an sampai tidur panjang. Begitupun abah masih beberapa kali mengecek keberadaannya apa sudah jalan apa masih di rumah. Sampai tadi pagi jam 10 ternyata sewaktu dihubungi Ade sudah sampai ke Tegal. Sinyal hape mulai ndut2an. Jam 16 masih ada di Semarang. Kok lambat ya apa ada kemacetan dijalan? Padahal sinyal hape cemerlang. "Bukan beh, kan kita perlu shalat, makan dan istirohah buat personil dan mesin." Kekehnya. Lalu jam 18.37 dianya kirim sms klo dianya sudah sampai ketujuan Yogya. "Rumah Sapto ada di ketinggian jadi gak terkena efek gempa." Alhamdulillah. Nuhun Gusti Anu Maha Rahman wa Rahim. Semoga anakku dan teman2nya diberikan karunia kesehatan kekuatan keselamatan kesejahteraan selama melakukan peliputan gambar berita yang perlu tentang gempa di Bantul dan sekitarnya. Semoga aja gak lupa sama pesanan abah, beliin sepasang sendal jepit kulit alas karet mentah. "Iya beh klo ada yang jual. Tapi kayaknya cuma sebelah deh." Aduuuuh ituh.